U are my friends for lifetime
Apabila hati disatukan kerana Allah, dan jiwa juga dipertemukan kerana Allah… namun jika diakhirnya perpisahan juga ternoktah, pasti hati tidak menjadi gelisah, dan jiwa tidak akan pula resah…
Kerana pertemuan terjalin kerana Allah, insyaAllah perpisahannya juga kerana Allah… Apabila hati mulai redha kepada takdir Allah, pasti jiwa tidak akan menjadi lemah…
| — | (via mujahadahrania) |
Didlm Ikhlas tak ada lelah utk slalu menunggu, tak jg lelah menanti
Didalam Ikhlas tak pernah ada luka bathin, tiada ada sakit hati, tak pula ada benci
Didalam Ikhlas tak ada buruk sangka, tak ada keluh kesah, tak jua ada Fitnah
Didalam Ikhlas tak ada amarah
Didalam Ikhlas tak ada rasa takut, tak ada khawatir & cemas tak juga rasa was”
Dalam Ikhlas Keridhaan itu terbentuk,dlm Keridhaan it lah Keikhlasan yg Teruji
Keridhaan, Keikhlasaan adl sgla sesuatu yg kita sandarkan hanya kepada Allah
Jika kau ridho pd Ketetapan-Nya maka Allah pun Meridhoi mu….
| — |
via (●*∩_∩*●) Lá Tahzan, Innallaha Ma’na (●*∩_∩*●)(via mujahadahrania) |
Alkisah, di sebuah lahan pertanian yang tanahnya siap ditanami terdapat dua benih tanaman yang berbaring bersebelahan.
Benih pertama berkata, “Aku ingin bertumbuh! Aku ingin akar-akarku menerobos ke dalam tanah di bawahku, dan mendorong tunasku menembus lapisan tanah di atasku. Aku ingin mengembangkan pucukku yang lembut seperti daun bunga untuk mengumumkan kedatangan musim berbunga. Aku ingin merasakan kehangatan sinar matahari di wajahku dan berkah embun pagi di kelopakku!”
Jadilah benih itu bertumbuh…
Benih kedua berkata, “Hmmm… Kalau akar-akarku menerobos ke dalam tanah, aku tidak tahu apa yang akan aku temui di kegelapan itu. Kalau aku memaksa menembus lapisan tanah yang keras di atasku, aku mungkin akan merusak tunasku yang lembut. Bagaimana kalau aku membiarkan tunasku terbuka dan seekor siput mencoba memakannya? Dan bagaimana kalau begitu aku membuka bungaku, seorang bocah mencabutnya dari tanah. Tidak ah, lebih baik kalau aku menunggu hingga keadaannya baik.”
Jadilah benih kedua ini menunggu saat yang tepat…
Tak jauh dari tempat ditanamnya benih itu, tampak seekor ayam betina sedang mengorek-ngorek tanah untuk mencari makanan. Dan akhirnya si ayam itu menemukan benih kedua yang tadi tengah menunggu waktu yang tepat. Lalu, si ayam itu langsung memakannya.
***
Apa yang terjadi pada benih kedua dalam kisah di atas bisa menjadi gambaran tepat sikap menyia-nyiakan kesempatan yang mungkin selalu dipelihara oleh kebanyakan dari kita. Kita tak jarang mengira akan datang kesempatan lain di waktu yang lebih tepat, tapi seperti halnya yang dialami benih kedua, kita pada akhirnya tahu bahwa dugaan kita itu bisa sangat keliru dan bisa berakibat fatal.
Karena itu, jika saat ini kita mendapat peluang (misalnya untuk menunjukkan kinerja terbaik kita di sekolah, kampus atau di tempat kerja atau peluang untuk mengerjakan suatu proyek tertentu berskala besar), segera ambil peluang itu sebagai langkah pembelajaran kita guna meraih sesuatu yang lebih besar di kemudian hari.
Jangan tunggu “waktu yang lebih tepat” di esok hari karena tiada waktu yang lebih baik selain SAAT INI juga!